Bali atau lebih dikenal dengan sebutan Pulau Dewata memiliki keanekaragaman daya tarik yang luar biasa di sektor pariwisata. Keindahan alam dan keanekaragaman tradisinya telah dikenal di seluruh penjuru dunia karena Bali telah sangat mampu memaksimalkan potensi-potensi yang mereka miliki.

Membahas mengenai potensi dan peningkatan jumlah desa wisata di Indonesia, Bali menduduki peringkat pertama dalam hal kenaikan jumlah desa wisata selama pendataan empat tahun terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat jumlah desa dengan objek wisata naik 32% pada 2018. Perhitungan terakhir pada 2018, ada 162 desa dengan objek wisata yang sebelumnya pada 2014 hanya ada 122. Total terhitung 110 desa wisata baru yang muncul dari kawasan Bali, atau bisa dikatakan pula naik sejumlah 124% dari pendataan sebelumnya.

Dari data Podes 2018 dihitung Indeks Pembangunan Desa (IPD) yang menunjukkan tingkat perkembangan desa dengan kategori tertinggal, berkembang, atau mandiri. Semakin tinggi IPD menunjukkan semakin mandiri suatu desa. Dari perhitungan indeks itu diketahui bahwa saat ini Bali hanya memiliki dua kategori yakni desa mandiri dengan persentase 27,67% atau 176 desa dan desa berkembang sebanyak 72,23% atau 460 desa tanpa ada lagi desa dengan kategori tertinggal.

Meskipun kategori desa mandiri memiliki jumlah yang agak lebih kecil tetapi jumlahnya telah bertambah sebanyak 75% dibandingkan pendataan tahun 2014. Sementara, desa berkembang berkurang sebanyak 70 desa atau sebesar 15,22% pada 2018 dibanding 2014. Selain itu, desa tertinggal yang sebelumnya tercatat ada empat pada 2014, telah berubah semuanya menjadi desa berkembang pada 2018.

Pada umumnya, desa wisata di Bali memiliki tradisi dan budaya yang khas serta didukung oleh alam lingkungan yang masih terjaga. Data rinci Podes menunjukkan ada 266 desa atau kelurahan di Bali yang memiliki kegiatan pelestarian lingkungan. Serta 156 desa atau kelurahan yang melakukan kegiatan pengelolaan daur ulang sampah maupun limbah.

Pengembangan wisata di desa telah menjadi sumber perekonomian baru dengan tetap memegang teguh warisan budaya.