Turonggo Seto adalah salah satu kesenian rakyat yang hidup dan tumbuh di daerah antara lereng Gunung Merbabu dan Merapi, tepatnya di Dusun Salam, Desa Samiran, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Nama Turonggo Seto berasal dari dua kata yang masing-masing memiliki pengertian sendiri- sendiri.

‘Turonggo’ berarti kuda dan kata ‘Seto’ yang berarti putih. Dengan demikian Turonggo Seto mempunyai arti “Kuda Putih”.Pengertian kedua istilah tersebut relevan dengan latar belakang kisah yang hendak diangkat dalam kesenian ini, yakni bercerita tentang kisah Pangeran Diponegoro saat berperang melawan Belanda yakni dengan menunggang Kuda Putih. Turonggo Seto disajikan oleh tujuh belas penari laki-laki. Satu penari berperan sebagai panglima dengan model busana yang berbeda, sedangkan enam belas penari berperan sebagai prajurit dengan menggunakan busana yang seragam. Gerak pada Turonggo Seto bersifat dinamis dan gerak-gerak yang diperagakan saat menari merupakan perwujudan bentuk-bentuk gerak saat menunggang kuda, berlari, berperang dan mengadu kekuatan.

 

(Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id)